Sabtu, 16 November 2019

Kembali ke Desa Menari Kampung Berseri Astra Tanon Ngrawan, Sharing Seru Tata Kelola Homestay



Kembali ke Desa Menari Kampung Berseri Astra Tanon Ngrawan,
Sharing Seru Tata Kelola Homestay


Apa yang dipikirkan itulah yang terjadi
Awal kisah yang biasa saja ya, lagi bingung merangkai kata, hihuhi...

Seringkali, kita mikir yang bukan-bukan. Kadang menyenangkan, kadang menyedihkan. Seringnya, apa yang terpirkirkan itulah yang terjadi betulan. Mending kalau yang dipikirkan yang membahagiakan. Kalau menyedihkan? Nggak mau dong ya.

Desa Menari Tanon Ngrawan

Pagi itu, Kamis, 7 Nopember 2019 aku kok ya pas mikir kapan gitu ya bisa kembali ke Desa Menari, eh dapat telpon dari Bu Hendrastuti. Acara ke Desa Menari. Wha... kebetulan yang serba kebetulan. Mumpung belum jadi masak buat warung aku langsung cuss saja ke Bandungan. Di sana sudah ada Bapak Adrian.

Desa Menari Tanon Ngrawan
Gapura masuk Desa Menari Tanon Ngrawan
Perjalanan ke Desa menari alhamdulillah lancar jaya. Melewati Lapangan Pangsar, Banyubiru, Getasan. Aku masih ingat dan hapal betul dimana parkirnya, dimana jalan masuknya hingga gapura besar bertuliskan Desa Menari Kampung Berseri Astra Tanon Ngrawan yang bakal menyambut kedatangan kami.


Kembali ke Desa Menari
Mau lewat belakang atau depan dari tempat pendopo itupun masih kuingat. Melewati pasar rakyat yang muncul kalau sedang ada acara di Desa Menari, akhirnya kupilih melalui depan. Dan acara Tata Kelola Homestay Kabupaten Semarang Tahun 2019 bersama Perwakilan Desa Wisata se-Kabupaten Semarang tenyata sudah dibuka dan dimulai. Telat beberapa saat.

Desa Menari Tanon Ngrawan
Acara sharing tata kelola homestay

Desa Menari Tanon Ngrawan
Jajanan khas ndeso yang lezat
 Welcome drink menyambut kedatangan kami. Ada pisang kepok yang direbus, kripik jagung atau apalah namanya yang kriuk endes banget dan tiwul, makanan khas ndeso yang manawan hati. Teh dan kopi panas bisa jadi pilihan untuk meredakan dahaga para tamu undangan.



Berkunjung ke Home Stay Desa Menari
Setelah sambutan dari Mas Riska, Mas Trisno dari Desa Menari dan Ibu Dewi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, para tamu dengan dibagi beberapa kelompok. Masing-masing berkunjung ke beberapa homestay yang didampingi guide dari Desa Menari.


Desa Menari Tanon Ngrawan
Salah satu homestay milik warga Desa Menari

Ya ada beberapa hal tentang homestay ini supaya tingkat hunian di desa wisata makin meningkat. Yang sederhana saja sih, misalkan saja tentang sprei yang bersih dengan warna putih. Juga toilet yang harus ada di homestay ini. 
 
Kalau nggak ada kasihan dong tamu kalau ke belakang harus lari ke kali dulu, hihihi, hari gini juga. Di Desa Menari sendiri homestay harus dengan warga pemiliknya. Sehingga benar-benar tahu kehidupan warganya seperti apa.


Ngobrol Seru Bareng Mas Riska

Desa Menari Tanon Ngrawan
Mas Riska
 Saat itulah aku berkesempatan ngobrol dengan Mas Riska, sosok inspiratif, anggota dewan yang sangat antusias dengan keberadaan wisata juga desa wisata di Kabupaten Semarang ini. Dengan beragam upaya supaya peningkatan wisata bisa terus meningkat. Dengan memaksimalkan media sosial, blog hingga vlog dan video yang membantu meningkatkan pemasarannya. Seru pokoknya...









Menu ala Desa Menari

Desa Menari Tanon Ngrawan
Menjelang tengah hari adalah sholat dhuhur bagi yang melaksanakannya serta makan siang. Menunya khas ndeso. Ada nasi jagung segala lho. Yang suka, bisa ambil sepuasnya, hehehe. 

Dan saat makan siang ini bos Batik Gemawang Abdul Kholiq Fauzi menjadi nara sumber yang paling kunanti. Karena dia salah satu sobatku yang lama banget nggak ketemu. Saking sibuknya tuh orang. Gitu kan ya Dul? Hihuhi...




The Power of Lambe by Abdul Kholiq Fauzi

Desa Menari Tanon Ngrawan
Abdul Kholiq Fauzi, dari Batik Gemawang
 Apa yang menjadi permasalahan di tata kelola urusan homestay ini? Kenapa tingkat hunian masih rendah dan pemilik belum mendapatkan keuntungan secara maksimal? Begitulah salah satu obrolan pertama yang menyenangkan sama bos Gemawang yang lucu ini.

 Ternyata hasil yang didapatkan kadang nggak sesuai harapan. Hitungan berapa laba belum jelas dan belum tergarap secara maksimal. Tapi namanya orang desa, nggak mungkin dong nggak menjamu tamu secara maksimal. Jadwalnya makan sama tempe ya ntar kenyataannya disembelehin ayam, iya apa iya hayo?

Yang menarik nih adanya cerita dan cerita. Kekuatan orang bercerita memang dahsyat, ya. Biar pengelolaan desa wisata khususnya homestay membaik. Katanya sih the power of lambe. Apa itu? Kekuatan mulut. Ya, obralan dari mulut ke mulut. Alias bisik-bisik kalau versi Trio Detektif nih hubungan dari hantu ke hantu. Dengan banyak link, banyak omongan orang, menjadi viral maka sebuah desa wisata akan terangkat. Dengan begitu tingkat hunian homestay secara otomatis akan tinggi.


Upaya Meningkatkan Hunian Homestay
Salah satu upaya untuk meningkatkan tingkat hunian homestay sebagai beikut:
1.    Diupayakan UKM yang bisa dilihat dalam 24 jam. Tamu datang jam berapapun bisa melihatnya secara langsung. Melihat dari kondisi masing-masing desa wisata. Apa yang ada di sana, diberdayakan dengan cara yang berbeda.
2.    Membuat souvenir dan yang menjual adalah pemilik homestay. Kemungkinan terbeli dapat diandalkan.
3.    Versi Pak Abdul sih seperti cara dia menarik wisatawan, nggak hanya jual batiknya saja. Tapi bagaimana cara membuat batik. Menjual cara membuat batik ini dengan harga yang sangat-sangat terjangkau.
4.    Jangan beri orang kota dengan makanan ala kota. Tapi kebalikannya. Begitu pula sebaliknya, saat yang berkunjung orang desa, ya jangan kasih makanan desa dong, mereka nggak bakal tertarik.
5.    Penataan dan kebersihan homestay yang harus selalu dijaga.

Begitulah beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan hunian homestay di desa wisata. Ada yang mau menambahkan? Silakan tulis di kolom komentar ya.


Mas Trisno, Menebar Ide di Desa Menari
Sudah pernah kutulis tetang Mas Trisno ini, cara dia menebar harmoni di desa yang kreatif. Dengan cara yang tak biasa. Mampu membuat kearifan lokal menjadi daya tarik tersendiri. 

Desa Menari Tanon Ngrawan
Mas Trisno
Melihat hal sederhana dari sudut yang beda. Menjadikannya istimewa meskipun sederhana, lakukan yang bisa dilakukan. Nikmati prosesnya. Dan lihat hasil dari yang beda ini menjadi keindahan harmoni kehidupan.

Desa Menari Tanon Ngrawan
Mas Trisno sedang koordinasi dengan warga
Ada beberapa paket waisata di Desa Menari bila penasaran ingin berkunjung ke sana. Karena apa yang ada sangat menawan dan nggak membosankan untuk dinikmati. Sayang banget kemarin Mas Tris super sibuk, belum bisa ngobrol banyak. Next time semoga bisa ketemu lagi ya, Mas.


Tari Geculan Bocah

Desa Menari Tanon Ngrawan
Tari Geculan Bocah
Penutup acara adalah Tari Geculan Bocah. Tarian lucu yang pernah aku lihat sebelumnya di Festival Lereng Telomoyo. Tentang anak-anak yang bermain apa adanya. Ada saling gendong hingga hal-hal sederhana yang mampu diangkat menjadi sebuah folosifi kehidupan. Kehidupan anak memang penuh keceriaan.



Desa Menari Tanon Ngrawan
Cekrek

 
Kalung dari Biji Puspa dan Bambu Mungil
Oh ya, di pintu masuk sebelum pendopo aku didatangi 2 mbak cantik. Yang siap memberi kalung dengan bentuknya yang super menarik. Ngomong-ngomong,  kalung itu terbuat dari biji puspa. Dibelah menjadi 5 bagian. Ditambah 3 buah pring atau bambu yang masih muda di bagian atasnya. Dengan tali warna merah. Bikin kepo saja ya.

Desa Menari Tanon Ngrawan
Kalung biji puspa
Kurang lebih memiliki arti untuk mewujudkan hal-hal yang ingin kita gapai, butuh perjuangan. Meskipun tak mudah harus dengan proses kreatif. Tak ada kata menyerah untuk sebuah mimpi menjadi realita bukan?

Desa Menari Tanon Ngrawan

Kembali ke Desa Menari kadang memang tak terlintas, terencana juga nggak. Nyatanya ada saja hal tanpa kita tahu mengapa dan bagaimana. Semoga di lain waktu bisa ke sana kembali.

Lalu, kapan Kamu ke Desa Menari?

21 komentar:

  1. Wah, sudut baru nih yg dibahas ttg desa Tanon, menarik cara pemasaran homestaynya...bisa belajar dari Mas Riska

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menarik tentang homestay ini mbak, ternyata hehe dan aku baru tahu juga

      Hapus
  2. Mba Wid puas banget nih samai dua kali ke Desa Menari dalam waktu berdekatan. Dan aku galfok dengan tiwulnya, enak banget ya jajanan ndeso itu mbaaak

    BalasHapus
  3. asyiknya nih, bisa dapat banyak hiburan ya, mulai kuliner lokal sampai menarinya, apalagi ada tiwuuulll hehehe

    BalasHapus
  4. waah senaangnya bisa balik ke sana lagi. Semoga dengan homestay yg makin tertata, jadi bikin wisatawan betah dan bertambah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, begitulah yang diharapkan mbak. Makin banyak yang kepo terus tertarik

      Hapus
  5. Aku belum ikutan ke Desa Menari mba, jadi penasaran pengin ke sana. Kalau pas ga ada event khusus, apakah ada tari-tariannya juga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak mbak, pas ada event pasti ada. Atau ikut paket wisatanya saja.

      Hapus
  6. Wah ada homestay nya juga ya
    .. Ih makin pengen ajak.kelg ke sini deh. Apakah tiap akhir pekan bisa atau hanya bila ada acara besar saja ya?

    BalasHapus
  7. Wah sepertinya seru ya mbak...sayang belum berkesempatan ikut kesana semoga next time dikasih kesempatan soalnya penasaran

    BalasHapus
  8. Pengen... Apalagi tiwul dan nasi jagungnya... Bikin aku salah fokus.


    Btw Mas-nya itu yang masuk iklan di TV itu kan Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, mendadak laper ya.

      Iya banget mbak, iklan yang ada dea menarinya itu...

      Hapus
  9. Mas Trisno ini memang luar biasa! Wes pokoke suangaaaaaar! Aku cuma bisa ndomblong saking amaze denger ceritanya. Dan satu lagi, jajanan di sini enak-enak. hohoo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wekekek, memang iya, inspiraif ya. Karena jajanan ndesonya iuyang bikin kangen mbak

      Hapus
  10. Seneng ya mbak.. Bisa ke sana sampai berkali-kali. Makanan tradisionalnya keliatan menggoda selera. Semoga dengan adanya homestay bisa lebih dikenal lagi

    BalasHapus
  11. Bikin pengen balik lagi dan lagi ya Mba. Aku juga pengen kemari belum puas eksplor

    BalasHapus