Senin, 24 Agustus 2020

Ungkapkan Cinta di Bukit Cinta Rawa Pening, Wisata Era Adaptasi Kebiasaan Baru dengan Gembok Cinta dan Mitos Dibaliknya


Ungkapkan Cinta di Bukit Cinta Rawa Pening,
Wisata Era Adaptasi Kebiasaan Baru
dengan Gembok Cinta dan Mitos Dibaliknya

Hmmm, pernah nggak sih ngerasain diputus pas sayang-sayangnya? 

Pernah? Kalau pernah berarti sama gitu, lho. Seperti halnya pariwisata, pas heboh dan booming sektor wisata digairahkan, eh mendadak pandemi corona muncul. Mau nggak mau, banyak area wisata tidak boleh beroperasi seperti sedia kala sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan.

Bukit Cinta Rawa Pening (Foto: koleksi pribadi)



Duh, sedihnya...

Tapi santuy saja, itu beberapa bulan lalu. Sekarang beda cerita. Kok bisa? Apa karena wfh alias work from home terlampau lama hingga kamu nggak tahu kabar-kabar menyenangkan baru-baru ini? Jangan, dong. Jangan sampai dikau ketinggalan kabar bukan kabur kali ini.

Btw flashback dulu, yuk.
 
Berbulan Work from Home Apa Kabarmu, Guys?
Jenuh? Sangat. Nggak munafik andai kejenuhan itu hadir. Bukan hanya aku, kau, dia atau bekas pacarmu, eh... semua merasakan hal yang sama. Dampak yang ditimbulkan juga mempengaruhi banyak hal. Pendidikan, perekonomian, wisata hingga mental down. Banyak keluhan mendadak hadir. Mulai dari chat whatsApp, curhatan facebook, twitter ataupun instagram. 

Hiksss, aku juga merasakannya. Hanya saja, bagaimana cara kita menyikapi secara bijak, akan menghadirkan energi berlebih. Berlebih sebelum acara keluh mengeluh itu menjadi ratjun -yang mampu merakit keterpurukan ke titik nol-.

Untukku sendiri, pandemi berakibat beberapa kerjaan dibatalkan. Huhuhu, ini sungguh menyesakkan dada tiada tara. Sebagai seorang penulis lepas, banyak acara yang memang menghadirkan banyak kerumunan orang sering terjadi. Tentunya itu tidak diperbolehkan selama masa pandemi covid 19.

Ada acara yang masih tetap berjalan, diganti dengan zoom meeting. Itupun dilakukan seminggu sekali selama sebulan penuh. Tentu rohnya beda apabila langsung bertemu muka dan mendapatkan teman-teman baru. Sungguh cinta ini membunuhku. Memang, pandemi membuat banyak hal luluh lantak. Harus move on!

Keterpurukan Wisata di Masa Pandemi
Salah satu yang terdampak paling berat adalah sektor wisata. Saat awal pandemi ini sampai di negeri tercinta, banyak wisata tidak diijinkan beroperasi. Tentunya menjadi pukulan berat untuk tiap personel yang menggawangi beragam sektor pariwisata.
Kepikir nggak di sektor wisata dampaknya meluas sampai mana?
 
 
                    1.    Wisata itu sendiri
Tentunya karena wisata ditutup, nggak ada pendapatan, dong. Tiket nggak ada yang beli, namanya aja ditutup, mana bisa beli tiket?
 2.    Karyawan dari tempat wisata itu sendiri
Kalau nggak ada pendapatan tentu penggajian karyawan jadi terhambat.
3.    Pedagang di kawasan area wisata
Saat liburan, tempat wisata biasanya penuh dengan orang yang berlibur. Tentunya ini melariskan para pedagang di kawasan wisata. Baik itu jajanan khas daerah setempat dan souvenir.
4.    Angkutan juga sepi
Yaiyalah, biasanya liburan tuh angkot juga rame dengan para wisatawan untuk datang ke area wisata.
5.    Armada
Pemilik bus ataupun kendaraan yang disewakan juga sepi. Biasanya saat liburan udah harus pesan dulu beberapa bulan sebelumnya supaya nggak kehabisan armada wisata.

Begitulah, masih ada banyak hal lainnya yang terpuruk karena saat pandemi untuk sektor pariwisata itu sendiri.


Era Adaptasi Kebiasaan Baru, New Normal atau Normal Baru
(Sttt, Jangan Pernah Bosan Baca Ini)
Sepakat nggak, sih, selain keterpurukan, sejujurnya ada banyak hal baru membuat kita melek di masa pandemi covid-19. Khususnya urusan protokol kesehatan. Apa saja dampak yang sangat-sangat kita rasakan? Dan kuharap, jangan pernah bosan baca ini, guys. Didengung-dengungkan bukan malah jadi beban, namun diharap menjadi kebiasaan.

1.    Peduli kebersihan
Urusan mencuci tangan, yang biasanya dalam sehari bisa dihitung, sekarang nggak terhitung saking banyaknya. Apalagi saat bepergian. Banyak-banyaklah mencuci tangan dengan sabun hingga bersih.

2.    Jaga imun  
Dengan selalu menjadi imunitas tubuh semaksimal mungkin. Si virus yang tak tampak mata semoga jauh-jauh gitu, lho. Harus ditameng dengan makanan sehat dan tubuh kuat.

3.    Pakai masker
Ada yang awalnya tersiksa karena malah sesak nafas? Semoga sekarang sudah nggak, ya. Bisa karena terbiasa, sepakat?

4.    Jaga jarak aman
Sungguh berat, tapi tetap harus dikondisikan jaga jarak aman minimal 1 meter. Apalagi berada di tempat umum.
           
Banyak hal positif dapat kita ambil di era pandemi. Masih ada yang lainnya? Atau malah membosankan bacanya? Ssttt, jangan, dong. Ini sebagai pengingat untukku juga.

Nah, era adaptasi kebiasaan pada baru new normal atau normal baru, destinasi wisata mulai dioperasikan kembali. Tentu dengan beragam protokol kesehatan yang sangat ketat. Seperti digaungkan banyak pihak terutama Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang. Semua ini untuk menggairahkan perekonomian kembali.

Beroperasinya suatu destinasi wisata Kabupaten Semarang di era adaptasi kebiasaan baru dengan awal berupa pemantauan dan verifikasi kesiapan penerapan protokol kesehatan. Kesiapan wajib dipenuhi destinasi wisata kemudian ujicoba operasional. Kedisiplinan protokol kesehatan harus tegas dilakukan banyak pihak. Yaitu destinasi wisata itu sendiri, pengelola destinasi wisata dan para pengunjung. 

Dekat pintu masuk Wisata Bukit Cinta Rawa Pening (Foto: koleksi pribadi)


Salah satu yang telah memenuhi secara lengkap adalah Wisata Bukit Cinta Rawa Pening, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Dimana Bukit Cinta?
        Buatku yang rumahnya Sumowono, nggak begitu sulit menemukannya. Google maps akan membantu dengan sangat mudah. Buat yang jauh di belahan bumi lainnya. Bisa banget lihat peta via Google. Wisata Bukit Cinta Rawa Pening ini terletak di Desa Kebondowo, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Bukit Cinta Jaman Old VS Jaman Now
Kapan pertama kali ke Bukit Cinta? Jaman putih biru-biru. Kapan, tuh? Nggak perlu nanya, nggak bakal kujawab haha. Itupun hanya serupa bukit yang hanya bukit mungil. 

Dari atas bukit tersebut view kece badai bakal kau lihat dengan syahdiyu. Ya, Rawa Pening. Rawa cantik dengan mitos dibaliknya sangat fenomenal dan legendaris. Mulai dari kapal-kapal para nelayan, juga enceng gondok-nya. Jaman jadoel, nggak ngeh sunset, belum hobi foto-foto, hobinya ngelukis. Jadilah beberapa kali aku lukis imajinasiku tentang Bukit Cinta ini.

Tahukah kamu, dulu banget, ternyata Bukit Cinta merupakan Pusat Gardu Pemantau Pertumbuhan Enceng Gondok oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Kemudian, makin lama, karena pemandangannya memang indah, berkembang menjadi seperti sekarang ini.

Bukit Cinta Rawa Pening, jaman old VS jaman now (Foto: koleksi pribadi)

Lain dulu lain sekarang, ada banyak pembenahan dilakukan. Yang bedanya sumpah drastis bener. Dijamin melongo dobel!

Paling jelas di area pintu masuk wisata. Ada banyak pembaharuan lebih menarik minat para  pengunjung. Masuk ke dalam, makin bikin terbengong takjub. Kepala naga, patung-patung, dan uwh, banyak banget yang baru.

Masih ingat dermaga yang bikin was-was kalau mau foto dekat kapal. Masalahnya, jalan yang dilalui berupa bambu-bambu yang ditata rapi kayak jembatan gitu. Meleng dikit bisa banget kecebur ke air.

Sekarang, dermada lebih cakep. Nggak perlu was-was. Sudah dibikin yang sebenar-benarnya dermaga. Lebih nyaman dan aman. Masih banyak lagi yang lainnya. Tapi, stop dulu untuk bukit cinta jaman now ini, ya. Lha berapa tiket masuknya, lewat mana untuk sampai sana?

Tiket Masuk Wisata Bukit Cinta Rawa Pening
Tiket jaman old vs jaman now beda tentunya, dong. Hanya 15 ribu rupiah/orang. Dua kali lipat dibanding dulu sebelum adanya perbaikan dan banyak spot kece. Tapi, tak perlu khawatir, nggak akan nyesel dengan harga tiket. Di dalamnya memang menakjubkan. 

Oh iya, untuk parkir motor hanya dibandrol 2 ribu/motor, dan 5 ribu/mobil. Sungguh wisata yang menggiurkan untuk didatangi, kan? Ramah di kantong, sesuai standar protokol kesehatan pula di new normal pada era kebiasaan baru ini.

Rute Menuju Bukit Cinta
            Ada banyak akses menuju ke sana lho, guys. Salah duanya, yang pernah kulalui seperti di bawah ini:

-       Dari Sumowono, ya nggak perlu kesulitan. Ambil arah Ambarawa → Banyubiru → Pertigaan (ada penjual sate di pojok kiri jalan) → Ambil arah kiri → Kurang lebih 10 menit naik kendaraan → Bukit Cinta Rawa Pening (kiri jalan).

-       Dari Semarang, ambil arah Solo atau Yogyakarta. Bawen → Ambarawa → Palagan Ambarawa → Ambil arah kiri → Arah Museum Kereta Api Ambarawa → Ambil arah Banyubiru → Puskesmas Banyubiru → Pertigaan → Ambil arah kiri → SMA Kartika III-1 Banyubiru → Kurang lebih 10 menit → Bukit Cinta Rawa Pening (kiri jalan).

Masih bingung? Aktifkan Google maps-nya ya, guys.

Protokol Kesehatan Ketat Tetap Aman dan Nyaman Era Adaptasi Kebiasaan Baru
Adanya pandemi membuat Wisata Bukit Cinta Rawa Pening ditutup sekitar 3 bulanan lebih. Sejak 1 Juli 2020, alhamdulillah sudah dibuka kembali dengan aturan protokol kesehatan yang tetap diberlakukan ketat tapi tetap aman dan nyaman. Tentu akan ada pembatasan jumlah pengunjung. Awal buka pukul 7 pagi hingga 2 siang. Setelah masa uji coba wisata dibuka dari pukul 8 pagi hingga 4 sore.

Bukit Cinta Rawa Pening (Foto: koleksi pribadi)


Depan pintu masuk sangat luas dan leluasa. Pecinta gowes biasanya nongkrong bareng di sana untuk sekedar jepret cantik keren. Di era kebiasaan baru, ada banyak hal baru harus dipatuhi bagi pengunjung yang datang lho, guys. Biar kamu nggak bingung bisa simak yang berikut ini:

1.    Pengunjung wajib pakai masker. Nggak pakai, bakal kena sentil petugas ataupun karyawan yang berjaga di sana.

Wajib pakai masker (Foto: koleksi pribadi)

2.    Sebelum masuk ke pembelian tiket, berjajar tempat cuci tangan. Monggo, semuanya diwajibkan cuci tangan pakai sabun dulu hingga bersih.

Wajib cuci tangan pakai sabun (Foto: koleksi pribadi)

3.    Cek suhu tubuh oleh petugas. Apabila suhu normal, bisa langsung ke pembelian tiket. Suhu maksimal 37,5 derajat Celcius, ya, guys. So, nggak perlu ngeyel kalau memang suhu tubuh sedang nggak normal. 

4.    Jaga jarak. Ada tanda X dan O dengan jarak khusus sebagai tempat jaga jarak untuk tiap pengunjung. Jangan sampai melanggar, lagi-lagi petugas nggak akan bosan untuk mengingatkan.

Biar jarak tetap aman (Foto: koleksi pribadi)

5.    Setelah itu barulah boleh masuk area wisata dengan menyerahkan tiket yang sudah dibeli.

11 Alasan Kenapa Kamu Harus ke Bukit Cinta
Gebetan hati selalu bikin meleleh. Tak ubahnya spot foto keren terbaru di Bukit Cinta. Melelehnya sampai ke rawa. Banyak pilihan untuk spot foto ini. Sampai bingung kalau mau diceritakan. Tak hanya itu, banyak alasan lain yang bisa diintip lho di area lebih dari 2 hektar ini.
 
1.    Patung perwujudan Baru Klinting 

Manis banget patung perwujudan Baru Klinting ini (Foto: koleksi pribadi)


Memasuki area wisata, bakal disuguhi patung dengan ornamen naga, gunung, dan anak kecil. Perwujudan Baru Klinting tengah mencabut lidi. 

2.    Dermaga cantik

Dermaga-dermaga cantik, tinggal pilih yang paling kece (Foto: koleksi pribadi)

Dermaga-dermaga kecil yang membuatmu betah berlama-lama guys. Pemandangan yang dihasilkan juga nggak kalah menarik. Bisa sepuasnya pantengin Rawa Pening nan luas dengan kecantikan alamiahnya.

3.    Bisa menyewa perahu motor mengarungi rawa
Sewanya sangat terjangkau. Sekitar 30 menit dibandrol 100 ribu saja. Ada tarif pesiar, prewedding dan praktikum. Ada sistem paketan juga, lho. Selama pandemi tetap memberlakukan protokol kesehatan ketat.

4.    Banyak bangku kece

Hihihi, ini sih bukan bangku, tapi nyaman juga lho nyantai di sini (Foto: koleksi pribadi)


Ada tempat untuk duduk santai dan melepas penat di sepanjang dermaga ini. Mau ambil foto dari sudut manapun, bakal terlihat cantik. Desau anginnya mempercantik suasana.

5.    Patung naga

Kepala naga, legenda Baru Klinting (Foto: koleksi pribadi)


Patung naga sukses bikin melongo sempurna. Kisah legenda Baru Klinting memang melekat erat di Bukit Cinta Rawa Pening ini.

6.    Background kece Gunung Merbabu, Telomoyo dan Perbukitan Gajah Mungkur

Pemandangan yang cantik (Foto: koleksi pribadi)


Penggemar gunung dan bau pinus mana suaranya? Bebauan pinus dan hawa alam memang terasa sekali. Buatku ini bikin betah sebetah-betahnya. 

7.    Ungkapkan cinta di Gembok Cinta
Si Gembok Cinta salah satu daya tarik tersendiri untuk para pengunjung. Biar cintamu sama si dia awet gitu, lho. Dengan latar belakang rawa nan epik, memang pantas kalau Gembok Cinta ini dijadikan spot keren untuk berfoto. Dan bisa banget kamu ungkapkan cinta buat belahan jiwa, ea....

8.    Tempat pertemuan

Bisa untuk kumpul bareng teman di sini (Foto: koleksi pribadi)

Bukan hanya spot fotonya yang keren habis. Buat kamu yang mau ngadain kumpul bareng teman atau komunitas, ada gazebo yang bisa digunakan. Komunitas Penulis Ambarawa atau Penarawa pernah mengadakan acara di sana sebelum adanya pandemi ini. Tempatnya sangat nyaman dan sejuk. Pokoknya layak untuk direkomendasikan. 

9.    Tembok dengan ukiran Legenda Baru Klinting

Belakangku, ada Legenda Baru Klinting terukir di sana (Foto: koleksi pribadi)

Mungkin tak banyak yang memperhatikan, tapi aku dapat spot kece di sini. Karena pas sepi, berani buka masker untuk foto sejenak. Ada penceritaan Legenda Baru Klinting dengan ukiran keren. Letaknya di belakang pintu masuk sebelah kiri. 

10. Tempat wisata segala usia
Bukan hanya khusus muda mudi, segala usia sangat pas berwisata di sini. Selain lengkap, indah, dan aman, konturnya juga aman untuk orang tua. Andai capek, bisa langsung duduk di bangku yang tersedia banyak sekali. 

11. Oleh-oleh dan suvenir khas Banyubiru lengkap dengan protokol kesehatan ketat

Selalu ada tempat cuci tangan di depan kios (Foto: koleksi pribadi)

Seperti halnya area wisata lain, Bukit Cinta menyuguhkan banyak oleh-oleh khas daerah Banyubiru. Terutama per-ikan-nan, hasil dari rawa. Mulai dari keripik teri, udang krispi, wader goreng, wader krispi, kripik belut dan masih banyak pilihan lain.

Yang perlu digarisbawahi, adanya pandemi tak boleh sembarangan berkerumun di dekat warung oleh-oleh ini. Tetap jaga jarak, ya. Dan kerennya lagi, di tiap tangga atau bagian depan warung ada tempat cuci tangannya juga.

Mau Tahu Keindahan Bukit Cinta Rawa Pening, Lihat Videonya, Yuk!




Mitos, Si Gembok Cinta VS Putus Cinta di Bukit Cinta
Kenapa namanya Bukit Cinta? Konon, dulu yang datang ke sini kebanyakan muda mudi sedang memadu kasih. Nah, pas banget kalau dinamai Bukit Cinta. Pinus dan tanaman rimbun menasbihkan bukit ini memang tempat santai yang sangat nyantai. Pemandangan yang dilihat rawa nan jernih. Layak banget kalau banyak yang suka. 

Ungkapkan cinta di Gembok Cinta Bukit Cinta Rawa Pening (Foto: koleksi pribadi)

Sebuah mitos mengungkap, andai ke bukit cinta dengan pasangan membuat hubungan putus. Hikksss sedih, ya. Boleh percaya atau tidak, itu hanya mitos semata.
Ada banyak hal lain tentang kisah Bukit Cinta yang lebih menarik, lho. Btw Bukit Cinta bukan hanya tempat untuk pasangan muda mudi doang, segala usia sangat pas datang ke sini. Tentu saja karena adanya banyak pembenahan dan memang sangat menarik untuk didatangi.
Ada satu spot mencolok di sini yaitu Gembok Cinta. Mitos tentang putus cinta ini maka cintanya harus digembok. Kayak pagar aja kali, ya, pakai digembok segala, hehehe. Percaya cinta kamu nggak, sih, guys? Ungkapkan saja kalau percaya.

Asal Usul Rawa Pening dan Legenda Baru klinting
Legenda Baru Klinting tak pernah lepas dari Rawa Pening dan Bukit Cinta. Kisah tentang Endang Sawitri, seorang perempuan yang memiliki anak berwujud naga bernama Baru Klinting. Suatu hari si anak bertanya siapa ayahnya. Diberitahukan oleh ibunya bahwa ayahnya, Ki Hajar Salokantara yang sedang bertapa di Gunung Telomoyo. 
 
Foto: koleksi pribadi
 
Baru Klinting mencari ayahnya tersebut dan berhasil menemuinya dengan membawa klinthingan bukti bahwa ia anak Ki Hajar Salokantara. Setelah mempercayainya sang ayah meminta Baru Klinting untuk bersemadi di Bukit Tugur supaya berubah menjadi manusia.
Saat ia bertapa itulah penduduk Desa Pathok mencacah tubuh Baru Klinting karena tak ada hewan yang bisa didapatkan untuk pesta panen. Muncullah jelmaan Baru Klinting menjadi bocah kecil yang buruk rupa dan bau amis. Baru klinting mendekati warga untuk meminta makanan, tapi malah dicemooh. Hanya seorang janda tua yang mau menerimanya.
Keangkuhan penduduk membuat Baru Klinting kecewa. Lagipula setelahnya si janda tua juga tak diperbolehkan mengikuti pesta. Baru Klinting akhirnya mendatangi penduduk, dan menancapkan sebuah lidi. Dan menyuruh penduduk mencabut lidi tersebut.
Hal yang dirasa gila oleh penduduk itu perlahan memang membuat penduduk kalang kabut. Tak ada satupun warga yang mampu mencabut lidi. Akhirnya Baru Klinting mencabut lidi. Suara bergemuruh membabi buta. Keluarlah air yang memancar. Banjir bandang terjadi, hanya Baru Klinting dan si janda tua yang selamat menggunakan lesung. Sedangkan Desa Pathok tenggelam. Akhirnya air yang keluar membentuk rawa, saking banyaknya. Karena airnya jernih disebutlah Rawa Pening.

Berwisata Tetap BISA di Era Adaptasi Kebiasaan Baru
Nah, jangan sampai saking asiknya lihat keindahan Bukit Cinta dan Rawa pening lupa akan protokol kesehatan. Era kebiasaan baru harus membuat kita lebih cerdas dan bijak untuk banyak hal. Baca cermat yang berikut ini, deh:
 
1.    Bakal diiingatkan melalui mikrofon bila ketahuan masker hanya dicantel doang
Tahu nggak sih guys, di Bukit Cinta ini, ketahuan saja masker nggak dipakai, langsung bakal diworo-woro melalui mokrofon. Nah lho, hihihi. Apa nggak malu, tuh.
“Perhatian, perhatian, buat Mbak-Mbak yang duduk di pojok dermaga, memakai baju biru, harap masker diapakai ya, Mbak.”
            Kurang lebih seperti itulah. Haha, ini sih keren banget. Jadi masker memang harus dipakai guys. Ini bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri, tapi juga untuk kebaikan semua. 
 
2.    Tetap jaga jarak
Berhubungan dengan pembatasan jumlah pengunjung. Kalau tak terlalu ramai, lebih aman jaga jaraknya.
 
3.    Saat berfoto, masker bisa dilepas sebentar
Tapi, setelahnya ya dipakai kembali. Ada satu tempat di bagian depan. Untuk foto keren, pas sepi, aku bisa foto tanpa masker juga di sana. 
 
4.    Banyak tempat cuci tangan
Di beberapa tempat ada banyak titik tertentu yang menyediakan tempat cuci tangan. Jadi tak perlu khawatir andai lupa nggak bawa hand sanitizer ataupun tisu basah. Di Bukit Cinta semuanya tersedia. 
 
5.    Toilet bersih
Selain itu toiletnya juga banyak tersedia. Tempatnya bersih serta nyaman banget.
 
           Dengan menerapkan sistem protokol kesehatan secara ketat, aman dan nyaman, insyaallah berwisata BISA, yaitu bersih, sehat, indah dan aman.

Intip 7 Tips Keren Ala Dakuw Saat ke Bukit Cinta
 
 
Ada tips kece yang bakal kubisikkan ke kamu kalau mau ke Bukit cinta ini, simak, ya:
1.    Hindari jam-jam ramai pengunjung. Kalau nggak pagi sekalian atau sore. Saat aku ke sana sekitar pukul 2 hingga 3 siang, pengunjung lumayan banyak.
2.    Pakai baju yang nyaman, karena area wisata ini lumayan luas. Dan buat kamu yang suka jepret foto sana sini, jangan lupa bawa perlengkapan asesori. Entah jarit, entah rumpi, biar bisa macam-macam pose.
3.    Nggak perlu bawa banyak jajanan. Banyak yang jual di area depan wisata. Harganya sangat terjangkau di kantong.
4.    Mitos putus cinta? Ah, percayalah, cinta itu fenomena semesta. Tergantung kamu kok, ea....
5.    Bawa masker dobel. Kenapa musti dobel? Area wisata yang luas bakal bikin keringetan. Nggak nyaman banget andai hanya bawa sebiji masker saja.
6.    Berwisatalah dengan serba BISA, Bersih, Indah, Sehat dan Aman. Dengan begitu wisata di era adaptasi kebiasaan baru ini akan tetap menyenangkan, aman bagi pribadi dan buat orang lain juga.
7.    Jaga kebersihan. Sepakat bukan kalau kebersihan adalah sebagian dari iman?
 
Dengan penerapan protokol kesehatan di era kebiasaan baru ini, semoga gairah pariwisata Kabupaten Semarang kembali bergelora. Tetap waspada, tetap jaga jarak, pakai masker, jaga imun dan berwisatalah dengan BISA!
Pertanyaannya, kapan kamu ke Bukit Cinta sama orang tersayang?

 

Referensi:
https://ungarannews.com/2020/06/25/wisata-bukit-cinta-banyubiru-akan-dibuka-1-juli-ini-penjelasan-dinas-pariwisata/
https://hellosemarang.com/bukit-cinta-rawa-pening-pesona-dan-mitos-dibaliknya/
https://www.brobali.com/2020/01/bukit-cinta-rawa-pening-htm-rute-lokasi.html
https://www.nativeindonesia.com/bukit-cinta-ambarawa/
https://travel.kompas.com/read/2019/03/01/080700127/legenda-asal-usul-rawa-pening-semarang?page=all
https://kabsemarangtourism.com/

38 komentar:

  1. Udah cakep aja ternyata Rawa Pening. Belum main ke sana lagi setelah renovasi. Harus mengagendakan ngayap ke saa bareng duo L 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus agendakan secepatnya biar nggak nyesel haha

      Hapus
  2. nggak cukup satu minggu ni, jalan jalan kesana ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk, agendakan mas Herlambang. Gimana kabare nih mas, lama nggak jalan-jalan akutu...

      Hapus
  3. wah ada gembok cinta? berasa di film Korea ya, pasti romantis :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, berasa gitu ya Mbak, nggak kok, asli sini hehehe :) Namanya memang unik.

      Hapus
  4. MasyaAllah, cakep banget pemandangan BUkit Cinta Rawa Pening ini ya mbak. Walaupun namanya Pening, tapi aslinya pasti bikin refresh. Hehehe...

    BalasHapus
  5. Ini kayanya kalo malem lebih cakep lagi deh tempatnya ya mbak?
    Ke semarang aku pernahnya transit doang sih numpang cari oleh-oleh pulang dari jepara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, lhah, sayang banget kalau nggak masuk Kaka, tapi barusan buka juga sih. Belum lama karen atutup beberap abulan selama pandemi.

      Hapus
  6. ini dia yg dicari-cari, persiapan dulu kuy biar gak jenuh WFH mulu di kontrakan, ha. Oh ya, itu beneran ada gembok cintanya mb? kayaknya dulu belum ada infonya sih, apa mungkin sudah direvoneasi besar-besarn ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah renovasi besar-besaran Kak, beda sama yang dulu. View makin terlihat kece badai katulistiwa...

      Hapus
  7. Wah boleh juga nih jadi destinasi wisata berikutnya setelah pandemi berakhir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di era adaptasi kebiasaan baru kak, lebih aman dan nyaman

      Hapus
    2. hihi iyaa nih mbaa, sayang kesananya itu kalau pake kereta harus rapid ngga yaa sekarang

      Hapus
  8. Aku belum pernah kesini tiap kali ke semarang. Semoga lain kali bisa mampir sama paksu dan si kecil after this pandemic.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah era adaptasi kebiasaan baru. Dengan aturan protokol kesehatan sangat ketat. Tapi tetap nyaman dan aman kak

      Hapus
  9. Ada banyak alasan kenapa harus kesana ya..semoga ada kesempatan main kesana mau nyobain bangku kece hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, haha, bangkunya banyak pilihan kak. Mau yang nyantai atau nyeni ada. Tapi nggak terfoto dengan sempurna kemarin tuh, hehe

      Hapus
  10. Bolak-balik cuma lewat aja deh, sama daerah ini. Pingin banget bisa mampir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nhaaa, sesekali mampir Mbak, biar kekepoan hilang

      Hapus
  11. Kalau kesini harus siapkan memory card kosong yang banyak nih, soalnya banyak spot foto cantiknya..
    Btw, sepertinya sektor wisata di setiap daerah memang lagi menurun ya kak, apalagi warga di luar pulau ga bisa berkunjung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini mulai era adaptasi kebiasaan baru. MUlai menggeliat kembali

      Hapus
  12. Mari berwisata di masa new normal dengan memperhatikan protokol kesehatan. Bangkitkan sektor wisata yang sempat terpuruk karena pandemi covid-19.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semangat menggiatkan wisata kembali ya kak

      Hapus
  13. Belum pernah ke Kabupaten Semarang. Tapi baca postingan ini jadi tahu banyak tentang objek wisata yang ada di sana. Makasih yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Misami kak, semoga kapan-kapan bisa nymapai sini

      Hapus
    2. Aamiiin...semoga ada rezeki dan kesempatannya yaa. Pengen banget euy~

      Gak bingung lagi pas ke sana, udah baca referensinya di sini.

      Hapus
  14. Asala sesuai protokol bisa lumayan kalau bisa piknik ya mbak. Udah jenuh banget soalnya di rumah, kurang hiburan. Lumayan jg yg tinggal dekat destinasi rawa pening ini, cakep tempatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, harus patuhi aturan protokol kesehatan tepat dan nyaman kak. Ketat tetap aman.

      Hapus
  15. Keren ya kak tmptnya kyk di pilem20 luar negeri jd mupeng mau ngebolang ke sn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh, biaa aja. Pokoknya selama patuhi aturan protokol kesehatan dengan tepat, insyaallah nyaman dan aman kak

      Hapus
  16. Liat postingan ini jadi pengen berkunjung ke bukit cinta nih hahaha. Iya ya, kasian banget wisata masaa pandemi jadi sepi. Tapi alhamdulillah sekarang pada bikin inovasi baru dan semoga tetap menerapkan protokol kesehatan juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak, dengan aturan protokol kesehatan ketat dan era adaptasi kebiasaan baru

      Hapus
  17. Nama bukitnya, jadi ingin berkunjung dengan yang dicinta alias pasangan halal, hehe. Insya Allah kalau udah resmi, siapa tahu berkesempatan ke bukit cinta agar semakin merekatkan cinta kami, aamiin 😃

    BalasHapus
  18. ternyata seru juga ya kisah di balik itu
    eh rawa pening sama nggak ya sama rawa bening
    soalnya familiar banget dengan nama rawa bening

    btw, wisata alam begini yang seru dan patut dilestarikan

    BalasHapus
  19. Saya baru tau ternyata asal usul rawa pening itu dari cerita Baru Klinting ya mbak.
    Tapi memang ya, setiap tempat pasti memiliki cerita sendiri di jaman dulu

    BalasHapus
  20. Lucu banget sih namanya bukit cinta, tapi memang ya di new normal ini semuanya berubah dan harus adaptasi dengan kebiasaan baru menggunakan masker. Walau sudah berbulan-bulan pakai masker kalau ke mana-mana, tetap saja pas pergi ke tempat wisata butuh pembiasaan baru lagi dengan kebiasaan baru ini

    BalasHapus