Kamis, 10 November 2016

Menemani Pengidap Kanker, Perjuangan VS Putus Asa



Menemani Pengidap Kanker, Perjuangan VS Putus Asa

Hai, Sob.

Menangis adalah hal yang kami lakukan bersama saat vonis itu terdengar. Ya, menangis memang melegakan, sangat melegakan. Tapi hanya sesaat. Sesaat berikutnya, maut itu seperti di depan mata. Tampak jelas dan menakutkan. Segala nasehat dan bacaan positif tetap membuat kami terpuruk.

Itu kisah sekitar setahun yang lalu. Semua kembali ke permukaan saat aku baca beberapa kali postingan di blog Mbak Nuria. Sekali dua kali mampu komentar, beberapa kali hanya air mata yang keluar. Antara sedih, pilu, ngilu dan kejam serasa beraduk jadi satu. Aku ikut merasakan apa yang ditulis Mbak Nuria. Dan semangatnya, wow, airmata kesedihan ini mulai mengering. Dihadapi? Ya harus, sebuah vonis yang mau tak mau harus dihadapi.

 Itulah yang membuatku ikut Giveaway #breastcancerawareness #finishthefight #gopink

Aku berempat bersaudara, cewek semua. Dari gen ibu, beliau pernah mengalami yang namanya wudhun yang sangat besar di punggung. Bisa dibilang daging tumbuh, itu sudah berpuluh tahun yang lalu terjadi, operasi adalah jalan terakhir.

Gen itu sampai juga ke kedua kakakku dan aku sendiri. Vonis kanker ganas dialami kakakku. Mungkin orang bilang ada second opinion. Tapi kami nggak akan gegabah. Pada akhirnya salah satu asset sebagai seorang wanita harus diangkat. Itulah keputusan berat yang diambil. Teknisnya sendiri aku nggak akan cerita, itu adalah hal tersulit yang kualami.

Dari segi psikis, tak bisa kugambarkan lagi kesedihan kakak. Hanya saja aku harus kuat, karena kedua anaknya baru beranjak dewasa. Suaminya juga harus kerja. Akhirnya, akulah yang merawat kakakku pasca operasi.

Sobat, merawat seorang pengidap kanker bukanlah hal yang mudah. Sulit sekali, aku yang tadinya takut darah, harus berjibaku dengan darah karena saat kakak diperbolehkan pulang, tempat darah belum bisa diambil. Setiap pagi, akulah yang mengambil dan mengukur berapa cc darah yang keluar dari bekas operasinya.

Rumah kami yang saling berjauhan tak membuatku patah semangat. Pagi aku sudah meluncur ke rumah kakak setelah mengantar anak sekolah. Banyak kendala yang kualami, stres kakak yang tak bisa kuungkapkan, semangat yang naik turun. Saat tertentu, dalam kondisi lemah, psikis drop, belum lagi benyak orang yang menengok dengan berbagai cerita mereka (yang kadang langsung nyeplos tak memikirkan persaan kami) membuat kakak kadang terpuruk. Mereka tak merasakannya...

Kebersamaan :)
 
Sobat, tak ada nasehat yang kuutarakan pada kakak, karena aku tahu, tak ada kata yang bisa diungkap saat dia sudah kehilangan salah satu bagian dari tubuh kewanitaannya. Dan aku nggak koar-koar menasehati ini itu pada kakaku. Karena aku tahu, aku merasakannya. Dan aku benar-benar bergulat dengan apa yang ada dalam dirinya.

Hampir 2 minggu aku merawatnya. Keluarga yang mensupport membuatku bertahan, membuat kakakku mengulas selarik senyum. Senyum semangat yang terpancar dari wajahnya adalah kebahagianku, kebahagiaan keluarga kami.

Ada beberapa point yang dapat kuambil dari pengalamanku merawat seorang pengidap kanker:

-          Saat-saat tertentu, jiwa kita ikut down, bahkan melebihi si pengidap kanker itu sendiri. Ini butuh semangat dari diri kita sendiri. Mungkin karena harus selalu ceria dalam keadaan apapun. Nggak mungkin kan merawat orang sakit sedangkan kita sendiri ikutan sedih?

-          Harus punya kesabaran ekstra. Pengidap kanker psikisnya naik turun. Tak mudah untuk menaikkan semangat untuk hidup.


-          Waktu itu, aku masih menulis stripingan sebuah sinetron televisi. Tapi aku bisa kuat pagi, siang mengurus kakak. Malam masih nulis setelah sampai rumah. Tenaga kita seakan lebih dan berlebih tanpa kita sadari. Allah benar-benar Maha Agung.

-          Terkadang, kita butuh membaca berita tentang hal positif dan negatif tentang kanker. Tapi, bagiku, saat kita down, itu tak akan berpengaruh. Diri kita sendirilah yang mampu mengatasinya. Dengan apa? berdoa.


-          Saat melihat pengidap kanker kesakitan, panik, putus asa, tak guna kita ngobral berbagai nasehat. Dengarkan apa yang jadi keluh kesahnya. Menenangkan tanpa kebanyakan bicara. Dan menangislah bersamaan. Itu akan lebih melegakan.

-          Selalu bersikap ceria adalah hal tersulit saat tahu saudara kita kesakitan. Tapi aku harus mampu melakukannya. Walau akhirnya, malam hari, di dada suami aku menangis nggak ada habisnya. Pikirku, yang penting nggak di depan si sakit. Untunglah, suami sangat mengerti. Mana ada sih yang tega melihat saudara kita kesakitan?


-          Pasrah dan ikhlas. Kalau tidak, kita akan ikut emosi, terkadang keputusasaan si sakit membuat kita ikutan putus asa.

-          Sholat, ngaji dan berdoa. Semua pasti setuju, doa bisa menebus ruang dan waktu. Andalanku membaca Al-Fatehah. Itu sangat menenangkan dan obat mujarab bagi si sakit. Juga bagiku sendiri.

Alhamdulillah, kesehatan dan usia panjang masih diberikan pada saudaraku. Allah selalu punya rencana dibalik semua ujiannya. Aku yakin itu. Semoga tulisanku bermanfaat bagi Sobat semua. Dan selalu bersemangat menghadapi hidup yang penuh misteri. Aku yakin, vonis kematian itu mutlak milik Allah. Karena pada akhirnya kita akan kembali. Kembali ke titik nol :)



Kampanye #finishthefight #gopink #breastcancerawareness

20 komentar:

  1. Aku masih ndak bisa bayangkan mbak gimana jdi posisi nya mbakny mba Wahyu... Kudu mawas diri dan bisa dijadikan plajaran bagi kita utk tetap care trhdap kesehatan diri sndiri jga... :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Mbak, pola makan sangat berpengaruh. Tapi wallahualam juga Mbak, makin banyak polusi sekarang ini.

      Hapus
  2. Ya Allah mba, semoga kaka nya pasca ini sehat terus yaa mba dan keluarga mb juga semuanya diparingi kesehatan. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, amin, maturnuwun Mbak Relita. Begitu juga dengan Mbak sekeluarga ya :)

      Hapus
  3. Smoga kakak lekas pulih ya mba. Paling utama memang semangat dari keluarga mba. Mama dan nenekku juga penderita kenker mba :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, makasih Mbak.
      Doa merupakan obat paling mujarab.
      Ya Allah, semoga semua baik2 saja ya Mbak

      Hapus
  4. Pas baca ini, tiba-tiba air mata mau turun. Semoga selalu diberi kesehatan. Aku selalu merinding kalau dengar orang menderita penyakit ganas. Nggak kebayang kalau terjadi padaku atau keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga nggak mengalami Mbak Anisa. Hidup sehat dan bahagia kuncinya, selalu berdoa :)

      Hapus
  5. Hanya mengingat Alloh hati menjadi tenang

    BalasHapus
  6. Ya Allah, merinding Mbak bacanya. Seringkali saat ada musibah seperti itu kita nggak nyangka kalau kita bisa sekuat itu. Soal orang menjenguk, iya sih, mulut orang kadang terlalu tajam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, bener2 jadi super mom hehe. alhamdulillah diberi kekuatan berlebih.
      Yup, maksud yg jenguk baik, hana saja suka kebablasan bicaranya. Kita harus maklum Mbak

      Hapus
  7. Semoga mbaknya cepat sembuh ya, mbak.
    Dan amal ibadah merawat mbaknya menjadi tabungan pahala di hari kemudian, Insya Allah..

    BalasHapus
  8. keluarga adalah penyemangat utama :)

    BalasHapus
  9. Kuat bener Mbak, siang ngurus kakak, pulang malam masih bisa nulis lagi. Wallahu 'alam ya. :))

    BalasHapus
  10. aaah mbaaa...semangat dan kesabaran anggota keluarga saat menemani kami berjuang itu luar biasa berharga! Thank you so much for joining my GA..and good luck yaaa

    BalasHapus