Minggu, 15 Januari 2023

Bapak dan Ibu, Inspirasi Tanpa Batas

Bapak dan Ibu, Inspirasi Tanpa Batas

“Wes to, kesehatan gigi ki cocok nggo kowe,” kata bapak sambil menatapku tajam.

Terpekur, aku cukup diam lalu berlalu meninggalkan beliau. Waktu itu lulus SMA, sudah keterima di sekolah kesehatan seperti mau bapak. Walau, aku tidak begitu menyukainya.

Aku saat usia 7 tahun bersama bapak, sampai sekarang kursi andalan buat foto endorse wkwkw...


Kuakui hampir seluruh jiwa bapak, tercurah ruah untuk pengabdian ke masyarakat dalam bidang kesehatan. Wajarlah kalau aku dimintanya menggeluti dunia seperti beliau.

Tentang Bapak

Dalam pikiranku, kalau nggak ambil jurusan teknik ya seni rupa. Seni kriya atau seni lainnyalah yang pasti bukan seni musik karena aku baca not balok aja wassalam.

Ini kok malah ke kesehatan! Jauh dari angan. Jadi ketar ketir membayangkan kuliah di Semarang, sendirian pula, padahal mbak-mbakku di Yogya. Teman-temanku kebanyakan juga dari Yogya, duh… njuk aku karo sopo?

Bapak dan ibu saat piknik dalam rangka menang lomba desa tingkat nasional
Zaman itu sebutannya masih LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa)
Eh, sekarang masih ada nggak sih...


Untunglah hari berikutnya pengumuman UMPTN. Zaman itu, yang tahun 90-an pasti tahu banget singkatannya apa, wkwkwk. Yep, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, dan aku lolos.

Akupun terlepas dari sekolah kesehatan itu, karena direstui masuk ke fakultas dan jurusan yang kupilih sendiri ke PTN di Yogya. Benar-benar kupilih sendiri tanpa intimidasi orang lain, haha.

Itulah bapak, sangat demokratis dan memahami diriku yang agak melenceng dari zona, hihuho. Terimakasih bapak, love!

Dalam hal seni, bapak jago nggamel, main kolintang, mengkreasikan janur, seni musik, pidato, wes deh apapun beliau ahlinya.

Hanya mendengar lagu, langsung tahu notnya apa, cara menggubahnya gimana de el el. Urusan ukir mengukir jagoanlah yaw. Mau nukang, mau melukis, nggawe omah, ahli kabeh.  

Sesibuk apapun beliau dengan pasien sebanyak 150 orang setiap harinya pada masa itu, tetap masih sempat mengajariku menggambar dan cek hitunganku.

Bacaan bapak juga buanyak pol, aku sering ikut membaca majalan dan buku yang dibacanya. Tempo, Jakarta Jakarta, Monitor, Intisari, pada zamannya.

Bapak pula yang memutuskan untuk langganan Majalah Bobo buatku, Majalah Hai buat mbak-mbakku yang otomatis aku juga ikutan baca serta Majalah Sarinah buat ibu. Lengkap!

Begitulah bapak, dari bacaan masa kecil itu, aku tumbuh seperti sekarang…

Tentang Ibu

Nggak lain nggak bukan, inspirasi ibu tentang kedisiplinan dan pengelolaan keuangan terbaik. Dari beliau, aku mengikuti caranya menghandle keuangan. Terutama finansialku yang kadang jungkir balik.

Setiap kata yang keluar dari beliau adalah doa buatku. Meski banyak kontra, beliau adalah inspirasi tanpa batas.

Love...


Beliau pula yang mengajariku menggendong si kecil saat habis lahiran. Memakai stagen agar tubuhku singset dan perutku nggak menggelambir. Mengajariku menyanggul sendirian pada waktu itu dan ini tidak sukses.

Susah guys nyanggul dewe, capek tangan, hasilnya mbuh… Aku nyerah urusan persanggulan ini.

Dari urusan memasak, ibu juga terbiasa memasak dalam jumlah besar atau hanya untuk serumah saja.

Saat kecil, aku ingat sekali sering sekali ada acara di rumah, dan ibulah yang memasak untuk orang sebanyak itu! Semuanya ibu handle sendiri walau ada rewang yang membantu untuk urusan memasak. Tetap saja rumus dan resep ibu yang mengepalainya.

Masih banyak yang lain, buanyak banget, nggak bakal kelar kutulis. Dan hmm, entah kenapa kok sambil mbrebes mili ya nulisnya, duhhhh…

Sehat-sehat mbah uti, mbah kung (sebutanku sekarang untuk ngajarin bocil) Bagaimanapun aku yang sering keluar dari zona, cintaku, sayangku tak akan pernah habis buat bapak ibu…


#1W1PGandjelRel 

Baca Juga:

Lato-lato

Ribuan Kilo Bersama Ibu

Mama Don't You Cry


0 komentar:

Posting Komentar