Sabtu, 09 Desember 2017

Ribuan Kilo Bersama Ibu



Ribuan Kilo Bersama Ibu

Dear, Sob. Desember sudah datang, bahkan telah memasuki tengah bulan.
Desember identik dengan hari ibu. Hujan Desember juga selalu menyisakan cerita tentang ibu. Bagaimana kabar ibu-ibu Sobat semua? Semoga sehat, ya.

Tentang ibu ini, tentu ada momen spesial yang tak mungkin dan tak bakal terlupakan seumur hidup. Karena dari beliaulah kita-kita ini terlahir ke dunia. Belum-belum air mata udah mau tumpah nih.

Oke deh, menginjak Arisan Blog Gandjel Rel periode 17 kali ini, yang beruntung adalah Mbak Chela Ribut Firmawati. Seorang guru dan kebetulan istri dari seorang guru juga. Mbak cantik yang suka nulis tentang parenting, edukasi dan beragam tips ini tinggal di Purwodadi.

Yang satunya lagi adalah Mbak Noorma Fitriana M. Zain, beliau juga seorang blogger aktif yang sangat inspiratif. Suka banget menulis dan dibagikannya ke blognya dengan bahasa yang super asik. Nggak bosan membaca postingannya. 




Desember setahun yang lalu, aku ikut menulis buku antologi bersama teman-teman WAG Easy Writing. Di situ, kukenang ibu mengajariku membungkus lemper. Yang tak semua orang bisa.

Bahkan, dari membungkus lemper itulah aku bisa bersosialisasi saat ada acara kampung. Entah tetangga mantu, khitanan atau ada yang meninggal dunia. Sepele sih, tapi itu sesuatu banget. Tak banyak loh yang bisa membungkus lemper versi rumit ini.

Tak akan cukup sebuah cerita tentang ibu. Kalau dihitung ribuan bahkan jutaan kilo, semua berawal dari ibu. Dari beliau, banyak yang bisa kupelajari. Dengan watak kami yang mirip dan sama-sama keras. Meski banyak nggak cocok, tetap saja ibu is the best.
Dari beliau pula, aku bisa menjalani hidup di jaman now yang makin menggila ini.

1.    Mengatur keuangan
Sosok luar biasa ini membuatku belajar memenej keuangan. Karena sejak SMP aku kost, mau nggak mau aku yang ragil dan manja harus bisa mengatur uang jatah mingguan. Sampai nggak cerdas mengatur duit, salah lo sendiri. Xixixi.

Karena seminggu sekali pulang, kupilah uang itu untuk uang saku, transport, jajan dan biaya pernak pernik sekolah. Bahkan, aku masih bisa hore-hore beli kaos dengan sisa uang yang tak seberapa itu. Kaosnya nggak bermerek, nggak pake mahal, tapi bangganya sampai ke hati.

Saat kuliah, kerja dan bahkan menempuh hidup baru. Hal ini masih kulakukan dengan baik. Walau urusan administrasi dan pencatatan, amburadul. Beda dengan ibu yang selalu mencatatnya di sebuah buku lawas. Jadi jangan sekali-kali bohong ya, ada bukti di catatan buku lawas tersebut.

Walau begitu, aku sempat merasakan amburadulnya keuangan waktu kerja. Meski udah gajian, masih dapat dari ini itu, internsif dan lain-lain, tetap saja kurang. mungkin kebanyakan hang out dan beli- beli barang yang nggak perlu.

2.    Jaga kebersihan
Bapakku seorang  tenaga medis. Kebersihannya yahud. Tapi ternyata, ibu tak kalah yahud. Dan aku? Masih belum apa-apa urusan kebersihan ini. Dari kecil didikan kebersihan ini tak pernah lepas dari orang tuaku.

Aku sendiri masih tertatih, masih suka semau gue. Hihihi. Pokoknya dari hal kecil sampai besar ibuku sangat menjunjung tinggi kebersihan ini. Jadi malu rasanya kalau nggak ikutan bersih. Toh, kebersihan juga pangkal kesehatan, jadi bersih itu memang harus, kok.

3.    Disiplin
Urusan disiplin juga nggak bisa diganggu gugat. Makan misalnya. Sarapan, makan siang dan makan malam di saat jam yang tepat. Dan harus di meja makan, ngumpul semua. Tapi lama kelamaan mulai goyah. Kadang aku makan sambil nonton TV, untung ibu nggak protes.

Disiplin ini berlaku pula urusan bangun tidur, sholat, ngaji, nyapu, ngepel dan mandi. Uhuks banyak banget aturan. Tapi sekarang, aku benar-benar merasakan manfaatnya. Dengan kerempongan jadwal yang padat, aku sangat bisa mengatur waktuku.

Tanpa meninggalkan tugas sebagai emak dari 2 jagoan. Keluarga, warung, nulis dan jalan-jalan tetap saja bisa sejalan. Mau rame-rame mau sendirian, selalu kusempatkan waktu me time ini. Apalagi dengan orang yang spesial, ea...

4.    Cerdas mengambil keputusan
Ibuku seorang guru SD. Tapi itu tak membuatnya mengeluh dengan 4 orang anak cewek dengan karakter yang sangat berbeda. Dulu, waktu kecil, ibu selalu menjadi garda depan bapak yang aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Dari desa sampai pusat, ibulah pendamping super setia. Meskipun wong ndeso, bagiku ibulah wanita cerdas sedunia, tak ada tandingannya.

Kecerdasan ibu berpikir cepat, tanggap, nggak panik saat situasi genting juga kuacungi jempol. Ada saat-saat bapakku di bawah, ibu tetap bisa berpikir jernih. Tegas mengambil keputusan terbaik dan yang jelas, tenang.

Ini yang sampai sekarang belum bisa kutiru. Lha akunya panikan haha. Hem, aku masih harus banyak belajar dari ibuku ini. Dari ibu pula, banyak keputusan yang kuambil kadang hanya berdasar feeling. Meski perasaanku seringnya amburadul, wikikik.

5.    Peduli
Ibu aktif banget di kemasyarakatan. Rasa kepedulian terasah dengan sendirinya. Awalnya karena mendampingi bapak. Lama-lama ibu menikmatinya, tanpa harus menomorduakan anak-anaknya. Meski sibuknya level tinggi, aku dan mbakyu-mbakyuku tak pernah sekalipun merasa kehilangan waktu dan kasih sayangnya.

Urusan begini aku masih jauh dari ibu. Ah, aku belum selevel itu. Semoga aku bisa mengikuti jejak ibu yang sangat mulia ini.

6.    Pantang menyerah
Jadi ingat Ryan D’Masiv nih. Badai, karang, hujan, badai, banjir menghadang, ibu adalah pejuang sejati. Yes, ibu pantang menyerah dengan apapun keadaan yang ada dan harus dijalani. Nyekolahin 4 orang anak, oke, walau kebat kebit cari dana tambahan. Dan masih banyak lagi. Beliau tegar setangguh karang, bahkan melebihi karang itu sendiri.

7.    Pandai menentukan skala prioritas
Kesibukan yang luar biasa mau nggak mau membuat ibu harus pandai menentukan skala prioritas. Mendampingi bapak adalah kewajiban, tapi tak pernah lengah dengan keempat anaknya. Pandai menentukkan skala prioritas ini nggak mudah loh. Karena bapakku hampir 24 kerja non stop. Pengabdian!

Hem… memutar scene masa kecil di kepala yang masih teringat jelas sampai sekarang. Menentukan mana yang terpenting dan mana yang harus dilakukan terlebih dulu ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang, aku masih kurang tepat menentukan skala prioritas. Masih kudu banyak belajar dari ibu.

Masih banyak sekali hal tentang ibu yang tak bisa diungkap, diceritakan dan kusimpan dalam hati. Harapanku sekarang ibu yang sudah sepuh dengan usia diatas 70 tahun ini selalu sehat, hepi, dan tambah dekat sama Allah. Dan aku bisa selalu mendampingi ibu.

Ah, sampai tak bisa berkata-kata. Ribuan kilo yang sudah kujalani bersama ibu. Suka duka, duka dan duka, semoga ibu sehat selalu, selau dan selalu. Doa kenceng dan terbaik selalu buat ibunda tercintaku…

Baca juga:

24 komentar:

  1. Keren banget ya, punya anak 4 tapi masih bisa aktif di masyarakat. Tentunya ini dg mengajarkan kemandirian ya ke anak2. Masalah disiplin, memang ya ibu2 jaman dulu itu disiplin banget, bahkan terkadang cenderung kaku(jaman sekarang pun juga banyak para ibu yg disiplin luar biasa ke anak2), tapi ya semua untuk kebaikan etika anak2 juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Super akut deh disiplinnya. Tapi ntar kalo udah jadi emak2 baru ngerasain gunanya.

      Hapus
  2. Takkan habis kebaikan kebaikan ibu kita ceritakan

    Tak kan usang keluhuran budi ibu kita kenang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, sepakat. AKu kok nggak bisa komen di blogmu ya Mas?

      Hapus
  3. Ribuan kilo bersama Ibu, judulnya simple tapi artinya sangat luas, bahkan tak terbatas... :D
    Lanjutkan perjuangan mu Ibu... :)

    BalasHapus
  4. Dan kini kita adalah seorang Ibu... hmmm tugas berat+mulia tiada tara sudah menanti ...

    BalasHapus
  5. Sosok Ibu yang luar biasa yaa mbak. Salam hormat say untuk Ibu. πŸ™πŸ™πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Njih Mbak Noorma, sungkem juga buat ibu njih Mbak :)

      Hapus
  6. Aku malah bayangin misal anakku diminta cerita tentang ibunya, aku, seperti apa ya? Lha wong aku ini ibu ibunan.

    Aku garis bawahi Mbak, sesibuk apapun anak nggak boleh kehilangan rasa sayang seorang ibu.

    BalasHapus
  7. Semoga ibunya selalu sehat ya mba Wahyuuu. Kemaren ga ketemu ya pas ke rumahmu hehe...

    BalasHapus
  8. Wah siiplah ibu memang harus kita teladani, sayangi dan hormati πŸ‘

    BalasHapus
  9. Keren nih, judulnya membuat ingin membacanya, bikin penasaran. Terlihat sederhana, namun mempunyai makna yang luas..
    Ibu memang luar biasa, semoga sehat selalu bagi ibu dimanapun berada..

    BalasHapus
  10. Aamiin semoga ibu-ibu kita selalu sehat, disayang Allah dan selalu bergelimang berkat.

    BalasHapus
  11. seneng ya mbak punya ibu yang meski sibuk tetapi tahu skala prioritas...

    BalasHapus
  12. Aku juga banyak mengambil tauladan dari ibu sendiri, ibu selalu luar biasa, usia boleh saja senja

    BalasHapus
  13. Ibu memang guru pertama setiap anak y mba... Alhamdulillah kita punya ibu2 yg hebat..

    BalasHapus
  14. Salam hormat utk ibu ya mba.. Smoga sehat sllu..

    BalasHapus
  15. Seorang anak memang banyak belajar dari sosok ibu.. jadi mikir deh... Apa yg dipelajari Intan dr ibunya yg galak ini ya

    BalasHapus
  16. Aku juga kalah sama ibu soal kebersihan, hihii... Kadang males itu mengalahkan semuamya

    BalasHapus
  17. Wah membungkus lemper versi rumit saat ini mungkin sudah tergantikan dengan membungkus lemper versi simpel ya mbak Wid. Keren, saya aja bungkus nasi masih miring sana sini :)

    Ibu memang selalu menjadi panutan ya mbak, apapun yang dilakukan beliau bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Saya paling salut dengan masakan ibu karena meskipun memasak menu sederhana tapi tetap enak, dan saya belum bisa menirunya.

    Semoga ibu kita selalu sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT, aamiin :)

    BalasHapus
  18. Kalau cerita tentang jasa2 ibu mmg tak akan pernah ada habisnya yaa mba, sll ada uluran tangan beliau dalam setiap langkah kaki kita :(

    BalasHapus