Senin, 20 November 2023

Gunung Api Purba Nglanggeran Gunung Kidul, Jalur Pendakian dengan View Bebatuan Menjulang

Gunung Api Purba Nglanggeran Gunung Kidul, Jalur Pendakian dengan View Bebatuan Menjulang

Pendakian Gunung Api Purba Nglanggeran. Gunung Nglanggeran populer dengan bebatuan tebing menjulang nan cantik.

Seperti halnya saat naik Gunung Andong, pendakian kali ini atas inisiatif teman-teman Gitapala yang ingin berpetualang di alam lagi meski usia sudah mulai beringsut naik.



Gunung tak terlalu tinggi, estimasi naik turun sekitar 3 jam saja, itupun jalan santai. Direncanakan pula habis dari puncak langsung ngecamp di Siung sekalian mau manjat dan lihat sunset plus sunrise.

Prepare ke Gunung Nglanggeran

Nglanggeran merupakan situs sejarah dengan pemandangan sangat khas penuh tebing eksotis. Awalnya lihat doang di Youtube kepo aja sebelum berangkat.

Titik kumpul langsung ke basecamp Ngglangegran pada Sabtu (11/11/2023). Aku berangkat dari Salatiga bareng Mas Condro dan istri tercinta Mbak Erna ke Gunkid.

Sesampainya di lokasi sudah menunggu Mas Jemex dan nyonya yang ontime banget. Tak berapa lama datang Mas Budi yang ternyata datang sendirian.

Rencana istri dan bocil mau ikut tapi gagal karena waktu tak memungkinkan. Namun, janji akan gabung saat di Siung.

Kita masih nunggu Mas Dodo cs yang rencananya bawa istri, 2 anak dan 1 orang teman anak. Namun, karena sampai pukul 10.10 WIB belum nongol juga akhirnya kita sepakat berangkat duluan ke puncak.

Alamat dan Tiket Masuk Gunung Nglanggeran

Gunung yang mau aku daki ini bukan sembarang gunung karena merupakan gunung api purba guys! Nglanggaren menjadi salah satu situs geologi yang sangat menarik dengan ketinggian 700 mdpl.



Bebatuan dengan tebing menjulang berlangsung sekitar 20 juta tahun konon merupakan runtuhan gunung api seperti breksi gunung api, anglomerat dan lava.

Pintu masuk dekat basecamp terpampang tulisan ‘Selamat Datang di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Ngglanggeran Patuk, Gunung Kidul Yogyakarta.’

1. Alamat

Alamat lengkap Gunung Api Purba di Nglanggeran Wetan, Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DIY.

2. Telepon

081228515575/0819233318

3. Harga Tiket

Harga tiket domestik Rp13.000 per orang.

Biaya retribusi Rp2.000 per orang

Parkir mobil Rp5.000.

Toilet cukup bersih dan ada beberapa sehingga menyamankan pengunjung. Terdapat pula basecamp untuk ngobrol jika ingin bertanya ke pihak pengelola situs Nglanggeran yang digawangi warga dan anak-anak muda setempat.

Menuju Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran

Lanjut ngeblog eh ke pendakian, ya. Sebelum mendaki tentu berdoa adalah hal wajib yang dilakukan. Walaupun belum lengkap, karena terbagi jadi 2 rombongan.

Rombongan 1 (urutan berdasar usia): Mas Jemex, Nyonya Jemex, Mas Condro, Mbak Erna, Coco, Mas Budi, Dakuw dan Bocil.

Rombongan 2: Mas Dodo, Nyonyae Mbak Chusnul, Mita, Miska, berempat ini satu keluarga dan Hazel (temannya Mita).

Rombongan 1 berangkat duluan, rombongan 2 sekitar 30 menit kemudian menyusul pendakian.



Ini urutan menuju puncak Nglanggeran, semoga nggak ada yang terlewat, ya.

1. Rumah Joglo

Menuju jalan utama pendakian terdapat rumah joglo yang bisa digunakan untuk bersantai sejenak. Areanya lumayan luas dan nyaman. Kita berdoa di depan Joglo.

2. Jalur Pendakian

Selanjutnya rombongan 1 berangkat melewati tangga dan mulai terlihat bebatuan besar yang unik dan menarik. Tangga-tangga menjadi pemandangan indah dengan kanan kiri bebatuan cukup besar.



Dekat awal pendakian terdapat camping ground juga.

3. Batu Besar

Pendakian semakin menarik karena belum-belum sudah disuguhi bebatuan yang besar saling tumpuk sehingga ada lorong pada bagian bawahnya. Ciwi-ciwi sempat pepotoan di situ.



Lanjut dengan trek yang masih aman dan tidak terlalu nanjak, cocok buat pemanasan naik gunung.

4. Lorong 1

Area setapak berupa lorong atau sejenis terowongan yang awalnya hanya tangga bebatuan biasa. Kayaknya sih batu besar yang terbelah jadi duagitu, kanan kiri dinding batu yang sangat tinggi.



Luas jalan setapak sekitar 50 cm doang bahkan ada yang kurang dari itu. Tas ransel sampai terseok-seok saat lewat loh.

Kemudian menjelang ujung karena saking nanjaknya dikasih tangga besi. Tangga mempermudah pendaki untuk naik.

Kalau ditanya pemandangannya, gila bro, keren banget, Masya Allah…

5. Dinding Bebatuan dengan Kontur Eksotis

Keluar dari lorong yang bikin seolah sesak nafas itu, pemandangannya semakin menakjubkan. Lereng bebatuan nan tinggi membentuk kontur struktur warna asli batuan purba yang usianya sudah uzur.



Hitam, coklat apalah namanya sukar untuk diungkapkan. Kayak mural black and white, menarik sekali.

6. Gunung Bagong

Jalanan naik terus dan sampailah ke Gunung Bagong. Kirain ini puncak, wkwkw, ternyata belum. Batinku, kok dekat sekali? Ternyata salah guys.



Terdapat bendera merah putih di puncak Gunung Bagong dan sekitarnya adalah tebing purba yang menjulang dengan pemandangan wow banget! Selain itu area persawahan warga juga terlihat jelas dari puncak.

7. Lorong 2 Sumpitan

Seperti lorong sebelumnya, sumpitan ini seolah batu yang suangattt besarrr dan terbelah menjadi dua. Makin naik makin asyik!



Kemudian kita berjalan di antaranya. Ketinggiannya kurang tahu ya bingung mau memperkirakan, tetapi sangat tinggi dan eksotis.

Jalan setapak sangat sempit juga hanya cukup untuk satu orang, ada beberapa bagian kita harus miring kalau mau lewat. Entah karena saya yang ndut atau memang terlalu sempit.

Keluar dari lorong batu, masih lanjut jalan terus. Santai saja sambil lihat pemandangan kanan dan kiri tebing juga vegetasi yang epik.

8. Ketemu Gazebo

Selanjutnya pendaki bakal ketemu tempat buat selonjorin kaki. Bagi yang cepek bisa istirahat di tempat ini dan terdapat gazebo untuk duduk santai atau minum dan makan sejenak setelah pendakian lumayan panjang.

Terdapat sumber Mata Air Comberan dan jalan sebentar lagi, menjelang puncak.

9. Tangga Menuju Puncak

Perjalanan lanjut terus dengan melewati tangga ranting kayu dan bantuan tali jadi lebih aman. Lumayan agak panjang perjalanannya tapi penuh kesan.

Jalanan semakin landai dengan tanaman mulai rimbun di kanan dan kiri jalan. Jika diperhatikan ada pohon jambu mete yang ndilalah kemarin sedang berbuah tapi belum matang.

Terdapat pula pohon duwet yang aku makan buahnya. Buah warna hitam artinya sudah matang dan rasanya enak banget. Entah sudah berapa puluh tahun nggak makan duwet.

Ah ya, di sini kita ketemuan sama anak-anak UGM yang turun sudah dari puncak, mungkin sekitar 30 an anak ada, seru dan rame penuh semangat.

Naik lebih atas lagi ada camping ground 1 dan 2 dengan area lumayan datar dan nyaman. Pepohonan tumbuh tinggi menjulang tak terkecuali pohon duwet.

Nah untuk sampai benar-benar puncak harus melewati tangga dari besi atau kayu, bisa milih ya. Lumayan juga tingginya sekitar 10 meteran.

Puncak Gunung Nglanggeran

Aha, lumayan juga tangganya bikin deg-degan, aku sudah membayangkan nanti turunnya gimana, wkwkw.

Alhamdulillah, sampai juga di puncak gunung yang hampir seluruhnya bebatuan. Pemandangan sekitar puncak tebing bebatuan yang kerennya nggak ketulungan. Bendera merah putih yang berkibar menjadi tempat keren untuk foto-foto.



Tebingnya sangat curam, ya, jadi hati-hati jangan terlalu ke pinggir. Saat di puncak, kita juga ketemu rombongan seorang ibu dan anak kecil sekitar 4 tahun. Ada pula bapak plus ibu plus anak yang sudah remaja. Mereka turun duluan.

Setelah puas menikmati pemandangan puncak, kita juga turun. Nah kan bener, tangganya bikin aku merinding soalnya terasa makin curam saat turun. Alhamdulilah selamat sampai ke area datar lagi.



Di sini rombongan 1 ketemu sama rombongan 2. Wah, kita seru-seruan cipika cipiki lama nggak ketemu.

Rombongan 2 ini lanjut naik ke puncak di bebatuan, sedangkan kita santai di area camping ground sambil duduk manis di batang pohon yang sudah kering. Makan, minum santai ngobrol rencana nungguin rombongan 2 yang sedang di puncak.

Kejadian Tak Terduga

Tidak ada 5 menit, terdengar suara jejeritan dari puncak. Di telingaku terdengar seperti orang jejeritan nggak jelas lebih mirip kayak orang kesurupan. Selain itu teriakan minta tolong yang bikin panik.

“Tolong tolong!”

Sumpah, sambil nulis, gua merinding kalau ingat kejadian ini.

Selanjutnya akan kutulis di kisah berikutnya di sini.


Baca juga:

Misteri Curug 7 Bidadari, Mitos atau Fakta

Misteri Curug Gending Asmoro, Mitos atau Fakta

Bukit Cinta Rawa Pening, Kisah Baruklinthing yang Melegenda


 

2 komentar: