Jumat, 17 November 2023

Naik Gunung Andong Via Pendem, View Eksotis Tiada Tanding

Naik Gunung Andong Via Pendem, View Eksotis Tiada Tanding

Pendakian Gunung Andong via Pendem. Sejujurnya, sedikit ragu ketika diajakin teman-teman Gitapala FTP UGM zaman old dan bocil-cocilnya naik Gunung Andong Via Pendem.

Secara usia, fisik dan persiapan aku sendiri nggak ada yang ready sama sekali.

Namun, apalah daya ketika akhirnya kepo juga gimana serunya ke Gunung Andong yang konon menjadi idola banyak pecinta petualangan karena epik dan eksotis tiada tanding.



Akhirnya karena dioyak-oyak, dirayu, ya ayolah mangkat.

Alamat Lokasi Pendakian Gunung Andong Via Pendem

Terdapat 3 jalur pendakian gunung Andong yaitu via Sawit, Gogik dan Pendem. Masing-masing memiliki karakter sendiri. Jika lewat Sawit waktu lebih lama tetapi lebih landai. Sedangkan via pendem lebih cepat tapi trek lumayan tajam.

Akhirnya dipilih jalur naik Gunung Andong via Pendem. Titik kumpul di basecamp Pendem sebab, kita dari berbagai domisili yaitu dakuw Sumowono, Yogyakarta, Magelang, Muntilan dan Salatiga.



Dari Sumowono meluncur ke tempatnya Mas Condro dan istri tercinta Mbak Erna. Tengkyuhhhh!

Namun, gitulah kita muter-muter dulu via Sawit, bikin konten dulu wkwkwk. Itu aja HP untuk ngonten malah ketinggalan, hihihi.



Akhirnya ke sampai basecamp Pendem pukul 16.00 WIB, alamat Pendem Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56194.

Bisa juga mampir sini dulu nih Goa RongCurug 7 Bidadari dan wisata lainnya.

Gasik dateng mau cup tempat rehat, eh ternyata sedang dalam masa perbaikan. Akhirnya diarahkan ke rumah warga, yang memang disediakan untuk basecamp.

Rumah lumayan luas, sudah ada tikar bisa rebahan santai nunggu tengah malam buat otw naik ke Andong.

Basecamp Pendem, Warung Makan, Toilet dan Harga

Buat kamu-kamu yang bertanya-tanya gimana kondisi basecamp? Nyaman, nggak? Ada warung makan? Toilet? Air mineral? Tenang, semua ada dan lengkap.

Urusan makan ada warung makan yang siap sedia hingga tengah malam. Cek list di bawah ini deh.

1. Warung Makan Buka sampai Tengah Malam

Warung makan menyediakan berbagai makanan dan minuman praktis, harga terjangkau serta buka hingga tengah malam.

2. Harga Air Mineral Kemasan

Hanya Rp5.000 untuk air mineral 500 ml.

3. Harga Makan dan Minum

Pilihan menu yang pasti mi instan segala rupa, Pop Mie, nasi rames dan aneka minuman. Berikut harganya:

·         Air mineral kemasan 500 ml 5 ribu.

·         Pop mie 10 ribu.

·         Indotel 10 ribu.

·         Makan nasi rames lauk telur ceplok 12 ribu.

4. Tarif Toilet

Tarif terjangkau hanya Rp2.000 dan jika mandi Rp5.000. Kebersihannya gimana? So, bersih pol!

5. Tarif Parkir

Motor Rp2.000 dan mobil Rp5.000.

6. Sewa Tenda dll

Terdapat tempat penyewaan tenda dan perlengkapan ngecamp dengan harga juga sangat terjangkau. Waktu itu aku menyewa tongkat hiking atau trekking pole satu biji 10 ribu. Sedangkan sewa tenda sekitar 30 ribuan.

Gimana, terjangkau kan? Nah saatnya prepare pendakian yuk.

Prepare di Basecamp Naik Gunung Andong Via Pendem Tek Tok Kan

Buat pecinta gunung pasti tahu istilah populer tek tok kan khususnya naik gunung yang tidak terlalu tinggi dan dapat ditempuh hanya dengan 3-5 jam doang.

Tek tok kan artinya bisa berangkat pulang dengan cepat dan nggak bikin tenda di puncak. Jadi nggak perlu bawa carrier jika memang ransel kecil aja cukup.

Rencananya, mau otw naik pukul 01.00 WIB dini hari. Tentunya setelah semua kumpul di basecamp. Kita rehat sejenak tapi nggak bisa sih ya, ketemu teman setelah berpuluh tahun pisah kan ngobrol ngalor ngidul nggak jelas, wkwkwk.

Belum lagi teman-teman lain dari berbagai daerah yang ketemu di basecamp. Anak UNS Solo, UNY, UGM, Semarang, Yogya, Grabag ngumpul jadi satu datang dan pergi.

Rebahan bentar eh udah jam 1 aja, yaweslah kita siap-siap.

Naik Gunung Andong Via Pendem Start Pukul 01.00 WIB

Sebelum naik, registrasi dulu di basecamp dan membayar sebesar Rp20.000 per orang. Kemudian kami serombongan kumpul di gapura awal masuk Pendem.

Di sini kita berdoa, pemanasan dan tentunya berhitung, ada 14 orang yang siap baik cowok cewek, anak-anak usia 4 tahun hingga lansia usia 57 tahun. Senter harus full ya, gelap gulita namanya aja tengah malam.

Bismillah semua siap, otw.

1. Dari Gapura Pendem ke Pintu Masuk Jalur Pendakian

Trek awal jalanan betonisasi ternyata treknya udah bikin senam jantung. Edunnn, nanjaknya polll, untung malam hari jadi nggak begitu keringetan.

Aku aja udah deh, kalo nggak kuat mo turun. Waktu tempuh 15 menitan, jalan biasa nggak pake ngoyo.

2. Pos 1 Kenongan

Selanjutnya untuk menuju pos 1 akan ada kebon pring dan setelah beberapa waktu mulai deh jalur pendakian yang sebenernya. Treknya nggak setajam tadi, tapi lumayanlah udah agak lemes dengkulnya. Waktu tempuh 20 menitan.

3. Pos Grujugan

Antara pos 1 dan 2 ada tempat santai sejenak yaitu Grujugan. Di sini jalan setapak perasaan nggak ada datar-datarnya sama sekali. Saatnya istirahat sejenak, minum-minum.

Mau istirahat lama yang anak-anak leyeh-leyeh bentar aja udah pada ngantuk, tertidur. Jadilah si bapak-bapak gendong lanjutin pendakian, be strong man!

Buat yang dewasa, kelamaan juga menggigil, di hutan belantara gituan kan angin lumayan deras dan kalau diam aja ya ndrodok tak tertahankan. Lanjut.

4. Pos 2 Kendit

Selanjutnya sampai di pos 2 Kendit nih lumayan, pokoknya kaki udah terbiasa, nggak terlalu ngos-ngosan. Dari sini udah langsung mau ke puncak.

5. Menuju Puncak

Mulai dari sini, vegetasi mulai berubah, angin tambah kencang sekali. Udah deh, aku udah bismillah aja, semoga kuat.

Semakin lama tanjakan makin tajam setajam silet, heheh. Aku sampai ngeri mau lihat ke belakang woi! Bisik-bisik tanya sama belakangku.

“Brooooo, ntar turun lewat sini lagi nggak?”

“Lewat Sawit we, sini curam banget.”

Aku cuma manggut-manggut. Menjelang pucak angin semakin kencang banget menerpa, belum lagi tanjakannya Ya Allah…

Buat yang anak-anak malah kayaknya nggak ada capeknya, jalan ya jalan aja, ketawa ketiwi seneng. Paling yang bikin susah nggak bisa ngilangin kantuk, secara tengah malam gini, kan?

Udah berasa nggak sampai-sampai.

“Woi semangat semangat lima menit lagi sampai!” teriakan entah siapa.

Lima menit muluk, lima menit muluk, sabar.

6. Puncak Alap-Alap Gunung Andong

Alhamdulillah, setelah jalan setapak yang naiknya mbuh, berasa dataran, dan ternyata beneran sampai puncak. Ya Allah kuat juga aku sampai Puncak Alap-Alap 1692 mdpl.



Pukul 3 lebih, saat dingin-dinginnya, 14 derajat saat itu. Banyak tenda berdiri, tapi dinginnya tak tertahankan. Mulai deh ndrodog lagi. Dikira sampai sini subuh, ternyata perjalanan lumayan cepet, eh jam 3 sudah ampai.

Untunglah ada warung makan yang pas dateng masih tutup, terus buka. Akhirnya kita gerudug masuk ke dalam. Yang penting anak-anak nggak sampai kedinginan.

Anak-anak tuh emang spesial, duduk bentar udah ada tidur angler. Bisa banget kita aja masih kedinginan.

Dan, nggak ada 10 menit senior dateng, Mas Jemex dan istri, lari apa ya, sejam sampai puncak nyusul kita yang terseok-seok. Takjub!

Sambil nunggu sunrise kita nungguin bapak ibu penjual goreng mendoan. Akhirnya, sunrise muncul dari peraduan, warna merah keemasan dengan kuning khasnya benar-benar mengunci pandangan. Merasa kecil banget dakuw.

Ya Allah, sepanjang mata memandang yang terlihat puncak gunung-gunung eksotis lainnya, Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, Prau, Ungaran dan Telomoyo. Semoga nggak salah sebut nama gunungnya, ya.



Kalo ada yang bilang eksotis tiada tanding, emang beneran. Untuk ke puncak Andong berikutnya harus melewati yang namanya jembatan setan.

Sungguh, aku lihatnya aja ngap-ngap, apa nggak ndrodog lewat jembatan yang kanan kirinya jurang itu?

Jembatan Setan

Dari namanya saja sudah bikin menggigil. Memang penampakannya bikin merinding. Tapi sayang juga kalau nggak lewat, secara kata mas senior nanti turun lewat Sawit, artinya ya mau nggak mau melewati jembatan setan.




Jembatan ini menjadi jalan penyeberangan dari puncak alap-alap ke puncak Andong. Setelah matahari benar-benar nongol dan habis sholat subuh, jam 5 lebih otewelah melewati jembatan setan yang bikin aku merinding ini.

Huuhuu, harus fokus nih. Gimana mau ngonten ya jalan aja ngeri gini… Jadi, jangan heran kalo sampai ada yang mbrangkang saat lewat saking takutnya.

Perjalanan jembatan setan kurang lebih 15 menitan dengan santai dan hati-hati. Sampai ke ujung jembatan, alhamdulilah disambut begitu banyak tenda dan lumayan ramai secara weken.

Daripada Puncak Alap-Alap, di Puncak Gunung Andong lebih ramai dan hampir penuh tenda. Di sini terdapat toilet dan warung sehingga menyamankan pendaki. Aku tak begitu lama di sini, secukupnya aja akhirnya turun lewat sawit.

Jadi, teman-teman, jangan bingung ya, jika mendaki Gunung Andong via Pendem, kita ketemunya Puncak Alap-Alap terlebih dahulu. Apabila via Sawit, ketemunya Puncak Gunung Andong dulu. Nah, keduanya dibatasi jembatan setan.

Perjalanan turun lumayan santai dan banyak ketemu pendaki. Jalan pelan-pelan aja secara lutut pernah cedera, nggak berani larilah. Jalanan ada yang tanah kebanyakan bebatuan dan sudah tertata rapi sehingga lebih nyaman untuk dilewati.

Trek via Sawit lebih landai daripada via Pendem yang lumayan curam. Pokoknya seru, dan yakin deh, bikin ketagihan naik gunung. Tengkyu warga Gitapala FTP UGM, Gitapala Reborn katanya, sehat, seru, murah rezeki semua, amin.

Oh ya foto-fotonya belum lengkap, masih dikejar detlen. Boleh cek IG-ku, salam!

 

2 komentar: